Kota Blitar - Bahasa Camondan, bahasa khas yang tumbuh dan berkembang di kawasan Kelurahan Kauman, kini kembali digelorakan. Bahasa yang menyimpan jejak sejarah panjang perjuangan kemerdekaan tersebut kini didorong agar tidak sekadar menjadi bahasa yang dikenal generasi tua saja, melainkan kembali diakrabi dan dilestarikan oleh anak-anak muda setempat.
Komitmen pelestarian ini mengemuka dalam acara nonton bareng film dokumenter serta bedah buku tentang Bosho Camondan yang digelar di Kampung Gresikan, Jalan Tidar, Kelurahan Kauman, Kota Blitar, Sabtu malam (5/9/2026).
Asisten Administrasi Pembangunan dan Umum, Setda Kota Blitar, Kusno memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif masyarakat dan para pemuda yang peduli untuk nguri-nguri atau melestarikan Bahasa Camondan. Menurutnya, Bahasa Camondan memiliki kedudukan sejarah yang unik karena berawal dari bahasa rahasia pada masa Agresi Militer Belanda.
"Bahasa Camondan ini riwayatnya bukan sekadar bahasa gaya-gayaan atau bahasa gaul biasa. Ada nilai sejarah penting di dalamnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dulu, ini digunakan sebagai bahasa sandi oleh warga untuk menyampaikan informasi kondisi di Blitar kepada para gerilyawan di pedesaan agar tidak diketahui musuh," kata Kusno.
Pihaknya menambahkan, saat ini penutur aktif Bahasa Camondan sebagian besar berasal dari kalangan senior. Oleh karena itu, langkah penyusunan buku dan pembakuan kamus Boso Camondan didukung penuh oleh pemerintah, serta diharapkan mampu menarik minat generasi muda untuk mempelajari keunikan lokal tersebut.
Sementara itu, salah satu penggagas acara dari kalangan pemuda Kampung Gresikan, Hernawan Miftahul Habib, mengungkapkan bahwa kegiatan ini berangkat dari keprihatinan atas berkurangnya pemahaman generasi muda Kauman terhadap bahasa daerahnya sendiri.
"Tujuan kami sederhana, ingin nguri-nguri Bahasa Camondan. Sebagian masyarakat mungkin baru tahu kalau bahasa ini punya nilai sejarah yang luar biasa. Anak-anak muda di Kauman tak hanya patut tahu, tapi wajib tahu sejarah dan bahasanya sendiri," tegas Hernawan.
Hernawan menjelaskan bahwa perjalanan Bahasa Camondan telah mengalami pergeseran fungsi dari masa ke masa, berawal dari bahasa sandi pejuang, menjadi bahasa tutur generasi tua, hingga kini berpotensi menjadi bahasa pergaulan sehari-hari yang bernilai positif.
Upaya dokumentasi Bahasa Camondan kini makin kuat dengan hadirnya karya literasi dan audio-visual. Buku berjudul Bosho Camondan karya jurnalis Yanu Aribowo menjadi salah satu dokumentasi tertulis utama yang merangkum sejarah dan ragam tutur bahasa tersebut. Karya ini juga diperkaya lewat film dokumenter hasil kolaborasi para seniman film serta sejarawan lokal.
Pemerintah Kota Blitar berharap upaya dokumentasi dan pelestarian Bahasa Camondan dapat terus berlanjut dan semakin melibatkan generasi muda. Dengan demikian, bahasa yang memiliki nilai sejarah tersebut tidak hanya tersimpan dalam buku dan film, tetapi tetap hidup dan digunakan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Kauman. (lang)
Berita Populer
by Admin Kota | 13 Jun 2019
by Admin Kota | 10 May 2019
by Admin Kota | 15 Aug 2025
by Admin Kota | 22 Jun 2023
by Admin Kota | 04 Mar 2019
by Admin Kota | 11 Jan 2023