Pemerintah Kota Blitar ajak petani terapkan pestisida alami dan teknik kultur untuk kendalikan hama padi dan jagung tanpa merusak ekosistem.
Kota Blitar - Menyikapi adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) pada lahan padi dan jagung, Pemerintah Kota Blitar mengimbau petani untuk menggunakan pestisida ramah lingkungan. Sehingga produktivitas pertanian tetap terjaga tanpa merusak ekosistem.
Pengendali Organisme Penggaggu Tumbuhan (POPT), DKPP Kota Blitar, Martina Kurniawati mengungkapkan bahwa saat ini serangan OPT masih menjadi ancaman nyata. Beberapa hama yang terdeteksi diantaranya ulat grayak pada jagung, wereng dan tikus yang menyerang lahan padi maupun jagung.
"Terkait OPT, luas lahan terdampak tercatat 0,43 hektar di Kecamatan Sananwetan, 0,84 hektare di Kecamatan Kepanjenkidul dan 0,74 hektar di Kecamatan Sukorejo," ungkapnya.
Martina menyebut saat ini pemerintah akan terus mendorong penggunaan pestisida berbahan alami seperti rodentisida nabati. Upaya itu selaras dengan konsep pertanian organik yang telah lama digalakkan di Kota Blitar. Tidak hanya menekan serangan OPT, pestisida alami disebutnya turut menjaga keseimbangan ekosistem lahan pertanian.
"Kami terus berupaya menggalakkan pestisida ramah lingkungan. Mengingat pendekatan ini jauh lebih aman, berkelanjutan dan mendukung ketahanan pangan daerah," ujarnya.
Selain penggunaan pestisida ramah lingkungan, Martina bilang, petani juga dapat menerapkan teknis kultur seperti rotasi tanaman, sanitasi lahan serta pemanfaatan predator alami. Dengan begitu, OPT dapat terkendali dan ekosistem lingkungan lahan pertanian tetap terjaga, sehingga keberlanjutan pertanian di Kota Blitar semakin kuat dan berdaya saing. (Pang)