admin@blitarkota.go.id (0342) 801171

BERITA

Mengisi Senja Dengan Warisan, Kisah Inspiratif Mbah Asbanin, Satu Satunya Pengrajin Payung Kertas di Kota Blitar

Admin Kota 16 Sep 2025 591x
Mengisi Senja Dengan Warisan, Kisah Inspiratif Mbah Asbanin, Satu Satunya Pengrajin Payung Kertas di Kota Blitar

Kota Blitar - Di tengah derasnya arus modernisasi, masih ada sosok sederhana yang dengan teguh menjaga warisan budaya. Dialah Mbah Asbanin, warga kelurahan Bendo yang hingga kini menjadi satu satunya pengrajin payung kertas tradisional di daerahnya.

Sejak dahulu, Payung kertas telah diyakini sebagai simbol spiritual dan budaya dalam berbagai ritual adat. Di sebagian wilayah Jawa dan Bali, payung kertas kerap hadir dalam prosesi pemakaman tradisional. Biasanya sebuah payung berwarna hijau, putih atau emas dibawa dengan maksud melindungi arwah dari gangguan roh jahat selama perjalanan menuju alam baka. Dalam tradisi jawa, payung juga diyakini sebagai simbol perlindungan spiritual ketika roh beralih dari dunia fana menuju keabadian.

Menyadari betapa kayanya makna filosofis dibalik payung kertas, Asbanin memilih jalan hidupnya untuk melestarikan kerajinan ini. Meski awalnya sempat menekuni pembuatan kendang, yoyo hingga gasing kayu, ia memilih beralih setelah menyadari resiko bekerja terlalu sering mengenakan mesin bubut dan persaingan produksi kendang yang juga menjamur, itulah mengapa dirinya memilih beralih membuat kerajinan payung kertas yang kala itu belum banyak digeluti.

"Daripada nganggur, di masa tua saya teruskan buat payung ini, jadi bisa mengisi waktu, sambil memancing dan berkebun. Dulu teman banyak yang belajar ikut buat, tapi sekarang banyak yang tidak meneruskan karena sepi pesanan, ada pula rekan sebaya pengrajinnya yang sudah berpulang," ungkapnya.

Payung kertas buatan Asbanin menggunakan bahan kertas karbon jepang dengan pegangan kayu waru yang disulam manual menggunakan jarum, benang, lem, paku dan kawat. Semua keterampilan merakit, menyulam hingga melukis corak pada payung dulunya ia pelajari secara otodidak, berbekal jiwa seni yang ia asah sejak dulu.

Meski di usia  yang tak lagi muda, semangatnya tetap menyala. Dibantu sang istri, ia mampu menyelesaikan 20 hingga 40 payung perhari. Harganya pun cukup terjangkau mulai dari Rp 10-20 ribu, bergantung pada ukuran dan kerumitan motif.

Pesanan disebutnya banyak datang dari wilayah sekitar mulai dari kediri, tulungagung, trenggalek, pacitan, pesarean gunung kawi hingga Bali. Bahkan saat memasuki Bulan Suro, permintaan meningkat tajam dari daerah Magelang dan Solo. Kota Solo menurutnya juga menjadi titik ekspor payung kertas ke China, Malaysia hingga Jepang.

Kini kerajinan payung kertas juga menemukan fungsi baru yang lebih dekat dengan generasi muda. Sejumlah sekolah dasar di Kota Blitar memesan payung polos sebagai media lukis, kanvas bagi para pelajar melukis dan mengenal tradisi lokal.

"Kalau sekarang banyak juga pesanan dari sekolah untuk payung polos, saya senang jadi kerajinan ini bisa lestari dan dikenalkan ke anak anak sejak dini," ujarnya.

Kisah mbah Asbanin membuktikan, dibalik sederhana bentuk sebuah payung kertas, tersimpan nilai budaya yang luhur dan inspirasi tentang ketekunan. Di usianya yang senja, ia tak hanya mengisi waktu, tetapi juga merawat jejak tradisi agar tetap berdiri kokoh di tengah gempuran zaman. (Pang)