Kota Blitar - Pemerintah Kota Blitar terus mengintensifkan program pertanian berkelanjutan dengan mendorong petani mengurangi ketergantungan pestisida kimia. Upaya ini dilakukan melalui edukasi, pendampingan, hingga pelatihan pembuatan pestisida nabati yang dinilai lebih aman bagi lingkungan.
Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kota Blitar, Martina Kurniawati menjelaskan mayoritas petani masih mengandalkan pestisida kimia karena alasan praktis. Dari total 2.266 petani di Kota Blitar, sekitar 70 persen tercatat masih menggunakan pestisida berbahan kimia.
"Meskipun bertahap para petani kita sudah mulai beralih ke pupuk organik, namun tidak dipungkiri mengingat selain harganya lebih murah, pestisida kimia mudah didapat dan hasilnya cepat terlihat dalam membasmi hama maupun gulma," ungkap Martina.
Martina menjelaskan pestisida kimia berpotensi mencemari tanah, air, dan organisme pengendali kesuburan tanah. Karena itu, pemerintah melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Blitar menjalankan berbagai program. Mulai dari pelatihan pembuatan pestisida nabati, pendampingan pengendalian hama terpadu (HPT), demplot percontohan pertanian ramah lingkungan, hingga akses subsidi pupuk organik.
"Kami terus berupaya meningkatkan kesadaran petani tentang dampak panjang pestisida kimia, dengan harapan ke depan semakin banyak yang beralih ke pestisida ramah lingkungan guna mendukung praktik pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan," ujarnya.
Martina menambahkan berbagai langkah strategis ini menjadi komitmen Pemerintah Kota Blitar dalam mendukung pertanian yang sehat, berdaya saing, dan ramah lingkungan demi menjamin keamanan pangan masyarakat. (Pang)