Kota Blitar - Kota Blitar kembali mencatatkan prestasi membanggakan. Dua film pendek karya sineas lokal, “Warisan Kakek” dan “Kembali(k)an”, siap menapaki panggung internasional untuk pertama kalinya. Keduanya akan diputar dalam ajang Indonesia Western Australia Film Festival (IWAFF) 2025, yang berlangsung di Perth pada 27 September– 5 Oktober mendatang.
Film ini lahir dari tangan dingin Betet Kunamsinam, sutradara asal Blitar yang telah menekuni dunia sinematografi sejak 2001. Pengalaman panjangnya meliputi kerja di televisi nasional hingga 2013, berguru langsung pada maestro film layar lebar Rudi Soedjarwo, hingga terlibat dalam produksi film “Iblis dan Algojo”. Namun, kepulangannya ke Blitar saat pandemi justru menjadi titik balik yang melahirkan karya penuh pesan moral.
“Waktu itu sedang ramai program sosialisasi anti-gratifikasi dari pemerintah. Dari situ, bersama teman-teman komunitas film di Blitar, kami terinspirasi untuk mengangkat tema kejujuran. Kami langsung mendapat dukungan penuh dari Kecamatan Kepanjenkidul, hingga akhirnya bisa casting dan shooting,” ungkapnya.
Kedua filmnya sama-sama menekankan nilai kejujuran. “Kembali(k)an” berkisah tentang seorang anak yang tetap menyerahkan uang kembalian belanja kepada orang tuanya, sementara “Warisan Kakek” menyorot sosok abdi negara yang teguh mempertahankan prinsip hidup di tengah godaan.
“Benang merahnya jelas, kejujuran. Kami ga banyak bermain teknis sinematografi, tapi lebih pada pesan moral yang kuat,” Tambahnya.
Tak disangka, film yang sebelumnya hanya diputar di Festival Film Lampung itu akhirnya menembus seleksi IWAFF 2025, bersanding dengan 33 film pendek lainnya.
“Saya prinsipnya sederhana: coba saja. Kirim karya, lengkapi berkas, biar nanti film bertemu dengan penontonnya. Yang penting orang tahu Blitar punya komunitas film dan lokasi yang sangat potensial untuk produksi,” Tegasnya.
IWAFF 2025 sendiri merupakan bagian dari peringatan 35 tahun hubungan Sister Province antara Jawa Timur dan Australia Barat, hasil kolaborasi KJRI Perth dengan Dinas Pariwisata Jawa Timur. Festival ini diharapkan mampu mempromosikan seni, budaya, serta bahasa Indonesia di kancah internasional.
Bagi Betet, lolosnya dua film pendek asal Blitar ke festival internasional bukan hanya soal prestasi pribadi, melainkan sebuah inspirasi bagi anak-anak muda di Blitar..
“Harapan saya, semangat ini bisa menular. Anak-anak muda Blitar harus berani berkarya, jangan takut mencoba. Lewat komunitas dan kebersamaan, kita bisa memajukan perfilman lokal hingga dikenal dunia,” pungkasnya.
Lebih dari sekadar prestasi, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa kegigihan, dukungan komunitas, dan sinergi berbagai pihak mampu membawa karya lokal menembus batas negara. Betet berharap kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Blitar agar tak ragu mencoba, berani berkarya, dan terus berproses. (Pang)