admin@blitarkota.go.id (0342) 801171

BERITA

Dari Blitar untuk Indonesia, Kisah Fajri dan Hesti yang Membawa Haru di Panggung OSN Tingkat Nasional

Admin Kota 07 Oct 2025 595x
Dari Blitar untuk Indonesia, Kisah Fajri dan Hesti yang Membawa Haru di Panggung OSN Tingkat Nasional

Kota Blitar - Senyum merekah tak bisa disembunyikan dari wajah dua pelajar Kota Blitar usai menorehkan prestasi gemilang di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2025 tingkat nasional. Ahmad El Fajri Habibulhaq, siswa kelas VI MI Perwanida Kota Blitar, sukses meraih medali emas sekaligus predikat Best Overall, sementara Hesti Novita Sari, siswi kelas IX SMPN 4 Kota Blitar, membawa pulang medali perunggu. Prestasi ini tidak hanya mengharumkan nama sekolah dan keluarga, tetapi juga menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Kota Blitar.

Fajri, yang sejak kecil sudah jatuh cinta pada dunia operasi hitung menceritakan bagaimana ia mengenal matematika sejak duduk di bangku PAUD. Dari situlah kedua orang tuanya selalu mendukung penuh hingga ratusan piala berhasil ia raih. Hingga kini sang Ayah bahkan kerap kali mendampingi hingga malam untuk mendampingi dirinya agar terus semangat belajar. 

Berbeda dengan Fajri, jalan Hesti menuju podium penuh liku. Ia sudah menyukai IPS sejak kelas VII SMP, dan meski sempat gagal saat pertama kali mencoba, ia tidak menyerah. Hobi membacanya membawanya semakin dekat dengan ilmu pengetahuan, khususnya geografi.  

Perjalanan keduanya tidaklah mudah. Menjelang perlombaan, Fajri harus menjalani jadwal padat mulai dari belajar intensif mandiri, kursus olimpiade di rumah bersama tiga mentor berbeda, hingga pembinaan bersama guru pembimbing. Begitu pula Hesti, yang rela menghabiskan waktu berhari-hari hanya untuk memastikan materi presentasinya matang. Meski sempat kesulitan menghadapi soal-soal rumit maupun lawan-lawan tangguh dari berbagai provinsi, keduanya membuktikan bahwa kerja keras dan doa mampu menembus batas.

“Kemarin waktu OSN, Sebagian soalnya sama seperti yang dipelajari saat latihan, yang paling aku suka sesi soal isian singkat, tapi juga ada beberapa soal yang sulit tapi tidak menyangka diumumkan menjadi best overall, atau peraih nilai tertinggi di setiap sesi soal isian, tes teori, dan tes logika matematika,” ungkapnya.

“Disana seneng bertemu teman baru, yang saya ingat adalah waktu sesi praktik lapangan setelah berkeliling memahami berbagai informasi di Kota Tua besoknya kita harus presentasi, cukup deg-degan karena kontestan lain juga sama-sama menyiapkan diri dengan maksimal, selama disana saya terus berdoa dan alhamdulilah ternyata saya bisa naik podium saat pengumuman di hari terakhir,” ucapnya.

Di balik gemilangnya prestasi, ada dukungan keluarga yang selalu menjadi pendukung utama. Fajri mengaku sang ayah kerap menemaninya belajar hingga larut malam, sementara sang ibu yang dulunya juga pernah menjadi pejuang lomba matematika, terus menyemangatinya. 

Sementara Hesti tumbuh dalam keluarga sederhana, namun kasih sayang kedua orang tua dan dorongan untuk rajin membaca menjadi fondasi kuat yang mengantarkannya meraih prestasi. Berprofesi sebagai penjahit Setiap pulang sekolah mereka disebut Hesti tidak pernah bosan menemani hesti menyalurkan hobinya untuk membaca di perpustakaan bung karno, tidak hanya ayah dan bundanya pendampingan dari kakak sepupu yang berprofesi guru, membuat langkahnya makin mantap. Dua minggu sebelum perlombaan, Hesti berlatih intensif presentasi setiap hari untuk menghadapi sesi praktik lapangan dan pemaparan materi di hadapan dewan juri.

Meski sudah berhasil mengharumkan nama Blitar, keduanya tidak ingin berhenti di sini. 

“Rencananya saya mau ikut kompetisi luar negeri. Harapannya bisa terus tambah prestasi, sukses, dan bawa nama baik Blitar lagi. Bahkan juga tertarik ikut lomba di bidang komputer karena cita-cita saya jadi programmer karena juga suka pelajaran coding dan logika matematik,” ungkap Fajri.

Hesti pun menambahkan dengan semangat, “InsyaAllah sama seperti Fajri, saya semoga bisa lebih berprestasi lagi, juga bismillah bisa melaju ke kompetisi internasional. Kalau cita-cita, Hesti pingin jadi pengusaha biar bisa membuka lapangan pekerjaan dan bermanfaat bagi sekitar.” Ucapnya.

Kisah keduanya adalah bukti nyata bahwa mimpi bisa diwujudkan dengan tekad, semangat, dan dukungan keluarga. Dari ruang belajar sederhana di Blitar, hingga podium kehormatan di ajang nasional, Fajri dan Hesti telah membuktikan bahwa masa depan bukanlah soal siapa yang paling beruntung, melainkan siapa yang paling gigih berusaha. Dan dari senyum mereka yang merekah, kita belajar bahwa setiap anak bangsa punya kesempatan untuk bersinar, membawa harum nama daerah, bahkan suatu hari nanti mengibarkan bendera Indonesia di kancah dunia. (pang)