Kota Blitar - Batik merupakan warisan leluhur bangsa Indonesia yang memiliki nilai estetika yang kental dengan unsur budaya. Bukan hanya sekedar kain biasa, batik mencerminkan aspek - aspek kehidupan melalui motifnya. Mulai dari alam, kehidupan masyarakat dan kepercayaan suatu daerah.
Tak heran, setiap daerah memiliki motif khas masing - masing. Tidak terkecuali Kota Blitar yang memiliki banyak sekali motif khas, hasil produksi para pembatik Bumi Bung Karno. Salah satunya Batik Wonomadyo, batik khas Kelurahan Karang Tengah, Kec. Sananwetan yang sudah ada sejak 2019 silam.
Batik Wonomadyo lahir dari program Masyarakat Berdaya Menuju Kota Pariwisata (Maya Juwita) yang saat itu digalakkan Pemerintah Daerah. Melalui program itu, setiap Kelurahan didorong untuk menghasilkan produk - produk unggulan.
Seiring berjalannya waktu, kini batik Wonomadyo acap kali dipesan berbagai instansi untuk dijadikan seragam dinas.
Ketua RT 02 Kelurahan Karangtengah, Sasmitro mengatakan produksi batik Wonomadyo berawal dari uluran tangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Blitar yang memberikan pelatihan bersertifikat hingga fasilitas untuk produksi batik.
Sasmitro menceritakan nama Wonomadyo diambil dari Bahasa jawa ‘perkawisan’ yang berarti pekarangan dan ‘madya” berarti di tengah. Sehingga bila diartikan adalah perkarangan yang ada di tengah atau bernama Karangtengah. Kelurahan Karangtengah memiliki lambang daun jati sehingga ciri khas motif batik Wonomadyo ada pada motif daun jati dan bunga sepatu. Tak hanya itu, beberapa ciri khas batik Wonomadyo juga terletak pada motif ikan koi yang menjadi ikon Kota Blitar.
Sasmitro mengatakan batik Wonomadyo juga melayani pemasan kain batik dengan motif yang telah disiapkan pemesan. Dirinya bahkan turut mengerjakan pembuatan seragam atau baju khas Puspa Dahana yang terdiri dari satu set mulai dari kain jarik, pakaian jadul, hingga udeng ditahun 2022. Tidak hanya itu, Batik Wonomadyo juga mendapat pesanan batik untuk ASN dari beberapa instansi yang digunakan setiap hari kamis. Projek ini berlangsung mulai dari awal 2023 hingga awal 2024. Meski demikian, hingga memasuki tahun 2025, Sasmitro masih mendapat pesanan batik ASN dari berbagai sekolah di Kota Blitar melalui aplikasi E-Katalog.
“2021 karena covid kami sempat berhenti kemudian syukurlah dari pihak Disperindag ada mediasi kalau ada bantuan kegiatan seragam kota. Kemarin ada kegiatan kota pertama membuat seragam jadul yaitu puspa dahana dengan satu paket kita sudah bisa ikut membuatkan,” ungkap Sasmitro.
Selain memproduksi batik, Sasmitro turut membuka pelatihan membatik bagi masyarakat yang ingin mengetahui cara memproduksi batik. Mulai dari menggambar hingga mencanting pola batik Wonomadyo. Pelatihan ini dibuka secara umum bagi siapa saja yang tertarik untuk belajar membatik. Dapat dilakukan secara kelompok maupun secara privat atau mandiri. Biayanya pun cukup murah hanya Rp 90.000 saja untuk satu kain. Gallery Batik Wonomadyo dapat dikunjungi di Jalan Bunaken RT 02 RW 03 No.29 Karangtengah Kota Blitar. (Sel)